Sosialisasi Pendidikan Pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang Diresmikan Pj Bupati Minahasa

MINAHASA – PEJABAT Bupati Minahasa mengatakan, modus atau karakteristik terjadinya eksploitasi dan perdagangan orang disebabkan kurangnya pengawasan dan pemahaman dari keluarga. Selain itu, salah satu kendala lain yaitu masalah internal semisal faktor ekonomi dalam keluarga.

“Selain itu faktor pengawasan dan pemberian pemahaman dari keluarga terjadinya eksploitasi dan perdagangan orang diakibatkan masalah internal yang meliputi kebutuhan ekonomi. Ini juga menjadi salah satu pendorong terjadinya hal tersebut,” kata Pj Bupati Drs Royke Mewoh DEA dalam sambutannya seusai membuka kegiatan sosialisasi pendidikan pencegahan tindak pidana perdagangan orang/ manusia di ruang sidang kantor Bupati Minahasa, Tondano, Sulawesi Utara (Sulut) pada Senin (07/05/2018) siang.

Dia menjelaskan bahwa dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 21 tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang, telah dijelaskan di dalamnya bagaimana peran pemerintah dan keluarga sebagai tembok terdepan dalam mencegah terjadinya hal tersebut.

“Melalui kegiatan ini, kami pemerintah kabupaten (Pemkab) Minahasa menyambut dengan antusias dan menunjang secara proaktif pelaksanaan kegiatan Sosialisasi Pendidikan Pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang ini. Apresiasi yang tinggi diberikan kepada ‘Terung Ne Lumimuut’ sebagai lembaga pendamping perempuan dan anak di Sulut. Meski begitu ada langkah awal untuk menghindari meluasnya perdagangan manusia, salah satunya dibentuk jaringan anti perdagangan manusia dengan melibatkan masyarakat,” tandasnya.

Selain Bupati, kegiatan ini juga dihadiri Ketua TP PKK Kabupaten Minahasa Ny. Helly Pongo dan narasumber Redya Betty Doloksaribu, ketua panitia TPPO Ibu Pdt. Susan Saerang beserta panitia kegiatan, para peserta Subgugus Tugas (SGT), Terung Ne Lumimuut (Telu), Lembaga Pendampingan Perempuan dan anak SULUT.
(vendry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *