Kudeta Bakamla dan Sekmen Setneg terhadap LN PKRI – Induk NKRI?

Terkait kasus penyerobotan brutal pihak Bakamla, Rabu kemarin, berikut statemen resmi Prof Irwannur Latubual, Ketua LN PKRI, siang kemarin.

“Saudara-saudari ku sebangsa dan setanah Air Indonedia  yg Merdeka. Para Dewan Adat, Para Bangsawan dan Putera dan Puteri  Anak-anak Biologis PKRI  di seluruh Nusantara, semoga diberkati Allah, Amin.

Jika Bakamla telah memasuki Gedung PKRI secara paksa melalui surat adu-domba Sekmen Setneg, ini adalah suatu Pelanggaran HAM berat terhadap  hak-hak Kemerdekaan Bangsa dan NKRI.

Itu artinya, Bakamla dan Sekmen Setneg telah merampas harga diri dan Kehormatan Rakyat Indonesia yang Merdeka ini, maupun Bangsa dan NKRI yg dibentuk dan terpateri di Gedung PKRI.

Untuk itu, saya sebagai Ketua Lembaga Negara PKRI dan juga Ketua Dewan Adat Nasional, sebagai penyambung lidah Rakyat meminta pendapat dari Sdr/sdri se-nusantara terkait masalah Kudeta Bakamla dan Sekmen Setneg terhadap Lembaga Negara PKRI yg adalah Induk dari NKRI. Jika benar dengan diserobotnya Gedung PKRI adalah suatu bentuk penjajahan gaya baru, maka Solusi Revolusi berada di tangan Saudara-saudariku yang Merdeka ini.

Atau, mungkin ini pertanda perintah kepada seluruh Rakyat Indonesia untuk bangkit dan lakukan perlawanan?

Salam Bhineka Tunggal Ika… ” (statemen resmi Prof Irwannur Latubual, Ketua LN PKRI)

IMG-20160728-WA0000

 

Beberapa waktu lalu Ketum PPWI Wilson Lalengke, sudah bertemu Mas Suroyo, Kepala Biro Sarana Bakamla, di kantor, yang memang cukup memprihatinkan. Tambahan lagi, Gedung kantor Bakamla di Jl. Pemuda, Matraman, Jakarta Timur itu segera harus dikosongkan akan diambil kembali oleh Pemda DKI Jakarta sebagai pemilik aset tersebut.

Ketum PPWI dan Mas Suroyo, sama-sama menyatakan tidak berkepentingan dengan pertikaian yang terjadi antara PKRI vs Setneg soal pengelolaan Gedung PKRI, tempat diproklamasikannya Kemerdekaan Indonesia oleh para founding fathers NKRI sepeninggal Ketua PKRI ke-2 Jusuf Mewengkang.

Ketum PPWI berharap bantuan Mas Suroyo agar dapat mengendalikan oknum pasukan Bakamla yang menyerobot masuk tanpa koordinasi dan komunikasi dengan Ketua PKRI, atau siapapun di sana selama ini, demi menjaga agar tidak terjadinya konflik horisontal yang dipicu oleh arogansi dari pihak-pihak yang bertikai itu. Mas Suroyo pun berjanji bahwa Bakamla akan menempuh jalur pendekatan yang baik, tidak anarkhis, dan jika tidak ada titik temu, akan dibawa ke ranah hukum.

Faktanya, perilaku anak buah beliau di lapangan justru berbeda dengan ucapan komandannya. Pembangkangan anak buah terhadap komandan? Atau, komandan tidak bertaji terhadap anak buah? Amat memprihatinkan keadaan yang menyedihkan ini. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *