Kondisi Terkini Bangsa Indonesia, Mamoto: Melalui seni budaya tercipta persatuan dan kesatuan

Minahasa – Yayasan Institut Seni Budaya Sulawesi Utara (YISBSU) kembali menggelar Festival Pinawetengan tahun 2018 di Kompleks Pa’Dior Pinawetengan, Kecamatan Tompaso, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara (Sulut) pada Sabtu (07/07) siang.

Festival tersebut diisi beberapa rangkaian kegiatan seperti Pagelaran Upacara Adat, Pawai Budaya, Penyeragaman Award, Atraksi Aneka Seni Tradisional Minahasa dan Pagelaran Busana (Fashion Show) dengan busana bercorak etnik yang dikenal kain Motif Pinawetengan dan peluncuran Kamus bahasa Pasan Ratahan Edisi Kedua.

Ketua Umum YISBSU Dr Benny J Mamoto SH MSI menuturkan, kegiatan seperti Festival Pinawetengan tanggal 7 Juli karena pada 7 Juli 1888 awal ditemukan situs bersejarah Minahasa sehingga tanggal tersebut dijadikan tradisi setiap tahunnya.

“Tanggal 7 Juli setiap tahun kami Yayasan Institut Seni Budaya Sulawesi Utara sering ataupun pelaku seni dan budaya menggelar Festival Pinawetengan. Ini sudah menjadi tradisi sejak lebih satu dasawarsa silam di lokasi situs purbakala Minahasa yakni Watu Pinawetengan dan Watu Tumotowa. Mengenai dipilihnya tanggal 7 Juli, karena seabad yang lalu atau tepatnya tanggal 7 Juli tahun 1888 situs Watu Pinawetengan dan situs yang lain ditemukan dan digali kembali setelah berabad-abad lalu tertimbun tanah,” tutur Mamoto.

Mengenai tema “Merawat Kebhinnekaan Dalam Bingkai NKRI” yang diusung, menurutnya sebagai respon terhadap kondisi bangsa Indonesia yang terjadi sekarang ini.

“Tema ini dipilih sebagai bentuk merespon kondisi terkini bangsa Indonesia yang rentan terjadinya konflik, berkembangnya paham-paham radikalisme yang menjurus kepada disintegrasi bangsa karena ancaman disintegrasi nasional sudah terlalu sering dimunculkan,” terangnya.

Mamoto berharap dengan pendekatan seni budaya tercipta persatuan dan kesatuan.

“Saya yakin banyak diantara warga Sulut percaya bahwa melalui pendekatan seni budaya kita sendiri, maka pembinaan persatuan dan kesatuan bangsa akan lebih terwujud,” harapnya.

Terkait hak tersebut, Kapala Polisi Resor Minahasa AKBP Christ Reinhard Pusung SIK berpendapat bahwa pagelaran seni budaya di Tanah Minahasa terlaksana hanya karena memilki komitmen kuat, keikhlasan dan semangat yang tinggi dari pelaku-pelaku seni dan budaya.

“Pagelaran Seni budaya seperti Musik bambu, tarian Kambasaran, atau seni budaya lainnya terlaksana namun memerlukan semangat yang luar biasa, komitmen dan keikhlasan tinggi. Sebagai Kapolres Minahasa dan saya mewakili masyarakat Sulawesi Utara menyampaikan ucapan terima kasih kepada Dr Benny Mamoto sebagai Ketua Umum Yayasan Institut Seni Budaya Sulut atas inisiatif dan kesempatan menggelar Festival Pinawetengan tahun ini. Dan terima kasih pula atas kedatangan warga dari Jakarta bahkan warga yang dari luar negeri, para sesepuh, tokoh agama dan tokoh masyarakat dan semua yang sudah melibatkan diri pada festival seni budaya Sulut,” tandasnya.
(VENDRY)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *