Bupati: Pengantin Adat Bekasi Harus Go International

Bekasi – Dalam rangka mengembangkan ekonomi kreatif serta menumbuhkan kecintaan terhadap ragam budaya pengantin adat di Kabupaten Bekasi, Pemerintah Kabupaten Bekasi melalui Dinas Pariwisata menggelar Bridal Fashion Festival 2018. Acara yang dilaksanakan mulai tanggal 6 s.d 8 April 2018 bertempat di Graha Pariwisata Komplek Stadion Wibawa Mukti Cikarang Timur ini dibuka secara resmi oleh Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin didampingi Ketua DPRD Kab. Bekasi Sunandar dan unsur pejabat Pemkab Bekasi lainnya.

Helatan Bridal Festival Fasion tahun 2018 yang diselenggarakan Dinas Pariwisata Kabupaten Bekasi mendapat apresiasi dari Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin. Beliau menyampaikan rasa kagumnya dikarenakan event yang pertama kalinya dilaksanakan di Kabupaten Bekasi ini mendapatkan atensi yang cukup besar dari masyarakat dan dikemas secara baik oleh penyelenggara.

Beliau juga menambahkan bahwa Pengantin Adat khususnya yang berasal dari Kabupaten Bekasi ternyata sangat memukau dan memiliki ciri khas tersendiri dari pengantin adat daerah lainnya. “Hari ini ada juga penjelasan langsung mengenai budaya pengantin asli Kabupaten Bekasi, sepintas kita berfikir bahwa Bekasi adalah Betawi (sama dengan Jakarta) di saat pengantin memakai tirai dan lain sebagainya tetapi ternyata berbeda,”ungkap nya pada saat memberikan sambutan dalam acara tersebut.

Terang Neneng, kiranya Pengantin Adat Kabupaten Bekasi ini haruslah terus dikembangkan dan diperkenalkan kepada publik luas sehingga nantinya akan semakin dikenal dan bahkan go International.

Selain itu dari sisi ekonomi kreatif yang didapat kata Neneng, semua tahu di jaman now ini banyak anak anak sadar mengenai wedding organizer (WO). Adanya kegiatan tersebut bisa menjadi pembelajaran khususnya dari perekonomiannya anak muda itu menyukai WO.

“Sebetulnya dari Pemerintah Kabupaten Bekasi punya beberapa program selain Bridal Fasion. Tentu kita ingin para enterpreneur muda kabupaten Bekasi bisa lebih maju,”terang dia

Zaman boleh berkembang, namun budaya tetap (tidak boleh diubah). Tahun lalu Pemerintah Kabupaten Bekasi sudah menganggarkan pembuatan batik, support itu bukan hanya satu atau dua tetapi banyak sekali. “Jadi sekarang Kabupaten Bekasi sudah punya pembatik asli asal Kabupaten Bekasi, jadi inilah yang mau dinaikkan keberadaanya. Ke depan sudah betul masif untuk menggarap produksinya agar anak-anak atau siapa pun tidak lagi menggunakan batik luar seperti Cirebon, Pekalongan, Jogya dan lainnya,”harapnya. (Asep)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *