Arogansi Oknum Kades Resahkan Warga Tiga Desa di Sungkai Selatan

IMG_20160322_152950
Hudari, sang Kades arogan

SETELAH difitnah santet, Supriyadi (41) warga Desa Labuhan Ratu Kampung, Kecamatan Sungkai Selatan, Kabupaten Lampung Utara, Provinsi Lampung ternyata masih harus menerima prilaku anarkhis sang oknum Kades yang diduga dengan gagah berani telah menganiaya Supriyadi di halaman depan rumah korban pada peristiwa malam itu (28/02/016).

Sehari sebelum peristiwa penganiayaan itu saya bersama tiga orang lainnya dipanggil Hudari (kades-red.). Sesampainya di sana, dia bilang bahwa saya dan keluarga saya telah menyantet dia dan keluarganya hingga sakit. Dia juga memberitahu saya dan orang-orang yang datang bersama kalau informasi itu didapat dari anak angkatnya Indra yang bertugas di Polsek Kota bumi Utara,” jelas Supriyadi.

Saat di rumahnya itu, lanjut Supriyadi, tidak terjadi hal -hal yang tidak diharapkan. Setelah itu mereka kembali ke rumah masing-masing. Namun keesokan harinya, sekitar pukul 20.30 wib, Hudari bersama dua temannya yang bernama Hilal dan Ketut kembali mendatangi kediamannya dan seketika menendang juga ‘mengaetkan’ laduk (pisau-red.) yang ada di tangannya ke leher Supriyadi. “Tuhan masih melindungi saya malam itu, karena laduk itu hanya merusak kerah baju koko yang saya pakai,” ujarnya.

Diakui pria yang aktifitas kesehariannya tani itu, awalnya dirinya tidak ada keinginan untuk melaporkan tindakan oknum kades itu ke pihak kepolisian setempat, tapi karena didesak empat petugas polisi dari Polsek Sungkai Selatan yang datang ke rumahnya, keesokan paginya  (1/03/2016), ia pun melaporkan peristiwa itu Polsek setempat.

“Kalau awalnya saya malas melapor polsek karena saya punya alasan kuat. Dulu saya juga pernah di perlakukan seperti itu sama Hudari, itu terjadi tahun 2014 lalu di lokasi kandang ayam punya kakak saya. Waktu itu saya terkena sabetan laduk di bagian perut, kepala, kaki dan pundak. Dari peristiwa itu sudah dilakukan perdamaian, tapi faktanya dia kembali mengulang perbuatannya terhadap saya, dan fitnah kepada adik saya, Sukirno,” ungkapnya.

Ketersinggungan jadi faktor pemicu peristiwa pengeroyokan yang menimpa Supriyanto dan Supriyadi oleh Hudari bersama 15 orang la innya pada tahun 2014 silam. Atas saran dari Kapolsek Sungkai Selatan saat itu maka dilakukanlah perdamaian yang dimediasi oleh tokoh masyarakat setempat. “Dalam perdamaian waktu itu, sekalipun kakak dan saya yang telah dianiaya rombongan Hudari yang berjumlah kurang lebih 15 orang itu, tetapi tetap kakak saya dikenakan denda uang senilai 10 juta sekaligus barang-barang inventaris miliknya yang ada di kandang, yang total kalau dinilai dengan uang sebesar 20 juta, juga dijarah oleh Hudari Cs,” papar Supriyadi.

Penjelasan yang sama juga diberikan Supriyanto ketika dihubungi melalui telepon selularnya. Ia menjelaskan, dasar pertimbangannya saat membuat perdamaian adalah demi menjaga keselamatan dan keamanan keluarganya dari tindak anarkhis Hudari di kemudian hari. “Saya mengiyakan muatan perdamaian yang dibuat hari itu, yang sampai detik hari ini tidak pernah saya terima copy surat perdamaian nya, karena saya tak ingin keamanan keluarga saya terancam oleh prilaku arogan Hudari,” ungkap Supriyanto.

Prilaku sewenang-wenang dan anarkhis oknum Kades Labuhan Ratu Kampung ini ternyata bukan hanya dialami oleh keluarga Supriyadi saja, tapi hampir merata menimpa warga lainnya. Bahkan bukan hanya warga tempat sang kades ditugaskan, tapi juga terhadap masyarakat dua desa lainnya, yakni Desa Sirna Galih dan Desa Labuhan Ratu Pasar.

Beberapa warga yang enggan disebut namanya mengaku merasa sangat tertekan oleh sifat dan sikap arogan oknum kades, yang dikatakan mereka lebih layak disebut ‘preman’ ketimbang seseorang pemimpin desa, yang seharusnya identik dengan sikap dan sifat mengayomi, bukan sebaliknya. Mereka pun berharap kepada aparat penegak hukum agar dapat segera menyikapi kondisi yang ada di lingkungan desa mereka dengan serius.

“Hudari itu prilakunya sudah sangat meresahkan hidup kami warga masyarakat di sini. Dia itu tidak punya jiwa pemimpin, yang ada jiwa algojo. Bukannya memberikan contoh yang baik malah menyiksa warganya sendiri. Kepada bapak- bapak petugas di Polsek Sungkai Selatan kami harap bisa menanggapi dan menyikapi kondisi ini dengan segera. Kami mau tenang, aman dalam kehidupan keseharian kami di desa kami ini, dan terbebas dari rasa ketakutan terhadap dia seperti yang terjadi selama periode kepemimpinannya,” ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya, diamini warga lainnya. WAWAN – LAMPUNG

2 tanggapan untuk “Arogansi Oknum Kades Resahkan Warga Tiga Desa di Sungkai Selatan

  • 26/03/2016 pada 10:10
    Permalink

    Di jaman merdeka seperti ini, masih ada penjajahan di pelosok Indonesia. Semoga pihak kepolisian bisa mengatasi masalah ini

    Balas
  • 26/03/2016 pada 10:10
    Permalink

    Di jaman merdeka seperti ini, masih ada penjajahan di pelosok Indonesia. Semoga pihak kepolisian bisa mengatasi masalah ini

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *